Rabu, 30 Desember 2015

BAB X MANUSIA DAN KEGELISAHAN

NAMA: MUSTOFA KEMAL
KELAS: 1EA25
NPM: 14215855
BAB X
       MANUSIA DAN KEGELISAHAN
1.KEGELISAHAN DAN SUMBER-SUMBERNYA
Pada prinsipnya manusia merupakan makluk yang diarahkan oleh motivasi dan cita-citanya. Hampir semua tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai usaha untuk memuaskan hasrat biologis mereka. Kegelisahan disini diartikam suatu kondisi dimana orang menghadapi halangan atau rintangan dalam mengatasi rintangan tersebut.
Banyak orang yang berpikir bahwa kegelisahan merupakan keadaan yang tak “diinginkan”. Tetapi para ahli jiwa berpikir bahwa kegelisahan merupakan kondisi hidup manusia, atau sebagai “kawan akrab” yang memberi stimulus kepada tingkah laku manusia. Kegelisahan yang tak terhindarkan disebabkan oleh kompleksitas manusia, lingkungan dimana ia tinggal, dan keterbatasan fisik dan jiwanya.
Kegelisahan dan kompleksitas manusia
Motif-motif perbuatan yang mendorong dan mengarahkan tingkah laku tidak timbul dan dapat mencapai pemuasan dengan cara yang sederhana. Sebaliknya motif-motif itu terjadi dalam keadaaan ruwet, bahkan kadang-kadang penuh kekacauan. Motif yang berbeda-beda bersaing satu sama lain, dan pemuasan terhadap motif pertama akan disusul dengan datangnya motif yang lain.
Kegelisahan dan kondisi lingkungan
Pemuasan yang menyeluruh pada suatu motif juga hampir tidak mungkin sebab tujuan motif itu hanya bisa dicapai menyeluruh jika sesuai dengan apa yang tersedia dilingkungan kita. Pada lingkungan tertentu makanan mungkin tak tersedia untuk memuaskan rasa lapar, karena orang itu tak mampu membelinya, atau kawan-kawan orang itu tidak memperhatikannya atau mengaguminya yang dapat digunakan untuk memuaskan keinginanannya akan status, keakraban, cinta dan sebagainya.
Kegelisahan dan ketidakmampuan penyesuaian bertindak
Alasan ketiga terjadinya kegelisahanyang tak terelakan ialah kenyataan bahwa pencapaian tujuan tergantung pada keefektifan dalam penyesuaian; hasil hanya dapat dicapai jika seseorang mempunyai kebiasaan yang sesuai untuk memanipulasi lingkungan.
Keadaan fisik
Keadaan fisik merupakan faktor yang utama sebagai kegelisahan manusia. Sejak bayi lahir ia selalu menghadapi kenyataan bahwa ia selalu terhalang keinginannya karena sebab-sebab fisik. Bayi tidak mempunyai koordinasi otot untuk mengatasi halangan fisik, alat pancaindra dan intelektualnya belum berkembang, bahkan ia tidak dapat memperhitungkan jarak suatu objek dan ia sendiri. Ia menjadi sangat tergantung kepada orang lain. Karena masa ketidakberdayaan itu cukup lama, kegelisahan sudah merupakan kawan intim manusia sejak lahir.
Lingkungan sosial
Sementara manusia dapat mengurangi sumber kegelisahan yang pertama, ia tidak dapat melakukan itu pada sebab yang kedua ini. Sumber kegelisahan manusia ikut berubah sebagaimana pembangunan teknologi dan ilmu manusia itu sendiri. Manusia satu dengan lainnya selalu ketergantungan satu sama lain. Manusia akan membutuhkan orang lain dalam hal ststus sosial, cinta kasih,rangsangan intelektual, dan sebagainya.
Motif yang bertentangan
Sumber kegelisahan yang paling rumit ialah pertentangan antara dua motif atau lebih. Hakikat dari konflik antar motif ini ialah bahwa seorang individu tak dapat mencapai tujuannya tanpa harus mengorbankan motif lain yang ia miliki. Kegelisahan ini merupakan kegelisahan yang sudah “built in” karena individu itu kecenderungan bertindaknya saling bertentangan sendiri.
Kadang-kadang konflik ini muncul karena keterbatasan jumlah keinginan yang dapat dicapai pada suatu saat, sebab motif-motif dapat muncul secara bersamaan dan membutuhkan cara-cara yang berbeda untuk mencapainya.

2.MAKNA KEGELISAHAN
Kegelisahan berasal dari kata gelisah. Gelisah artinya rasa tidak tentram di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang, tidak sabar lagi (menanti), cemas dan sebagainya. Kegelisahan artinya perasaan gelisah, khawatir, cemas atau takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut.
Manusia suatu saat dalam hidupnya akan mengalami kegelisahan. Kegelisahan ini, apabila cukup lama hinggap pada manusia, akan menyebabkan suatu gangguan penyakit. Kegelisahan yang cukup lama akan menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia.
Penyebab kegelisahan dapat pula dikatakan akibat mempunyai kemampuan untuk membaca dunia dan mengetahui misteri kehidupan. Kehidupan ini yang menyebabkan mereka menjadi gelisah. Mereka sendiri sering tidak tahu mengapa mereka gelisah, mereka hidupnya kosong dan tidak mempunyai arti. Orang yang tidak mempunyai dasar dalam menjalankan tugas sering ditimpa kegelisahan.
Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian. Perasaan-perasaan semacam ini silih berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan, dan kehidupan manusia.
Perasaan cemas menurut Sigmund Freud ada tiga macam, yaitu :
Kecemasan Obyektif. Kegelisahan ini mirip dengan kegelisahan terapan, seperti anaknya belumpulang, orang tua sakit keras, dan sebagainya.
Kecemasan Neutorik (saraf). Hal ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya dari naluri. Contohnya dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, rasa takut yang irrasional semacam fobia, rasa gugup dan sebagainya.
Kecemasan moral. Hal ini muncul dari emosi diri sendiri seperti perasaan iri, dengki, dendam, hasud, marah, rendah diri, dan sebagainya.
3.KECEMASAN MORAL
Tiap pribadi memiliki bermacam-macam emosi, antara lain : iri, benci, dendam, marah, takut, gelisah, cinta, rasa kurang (inferior).
Rasa iri biasanya dihubungkan dengan keadaan orang lain atau keadaan lain yang menjadi sebab perbandingan yang diinginkan. Iri dan sebagainya itu mungkin tidak beralasan, artinya hanya disebabkan oleh sikap egoisme yang meluap-luap, dan hanya memandang dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan orang lain.
Rasa iri, dengki, benci dan dendam dan sebagainya itu merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat.
Sifat seperti itu adalah sifat yang tidak terpuji dihadapan sesama manusia apalagi dihadapan tuhan. Dengan adanya sikap itu manusia akan mengalami rasa khawatir, takut, cemas, gelisah, dan putus asa.
Usaha-usaha mengatasi kegelisahan
Mengenai mengatasi kegelisahan ini pertama-tama harus mulai dari diri kita sendiri, yaitu kita harus bersikap tenang. Dengan sikap tenang kita dapat berpikir tenang, dan segala kesulitan dapat kita atasi. Dengan ketenangan ini orang yang mengancam kita mungkin akan mengurungkan niatnya.

3.MAKNA KETERASINGAN
Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu adalah dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata asing berarti, tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil, atau terpisah dari yang lain.
Terasing atau keterasingan adalah bagian hidup manusia. Sebentar atau lama orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan, sudah tentu dengan sebab dan kadar yang berbeda satu sama lain.  
Sikap rendah diri
Sikap rendah diri menurut Alex Gunur adalah sikap kurang baik. Sikap ini menganggap atau merasa dirinya selalu atau tidak berharga, tidak atau kurang laku, tidak atau kurang mampu di hadapan orang lain. Sehingga merasa dirinya lebih rendah dari orang lain.
Keterasingan karena cacat fisik
Cacat fisik itu tidak perlu membuat hidup terasing karena cacat fisik itu kehendak tuhan. Namun manusia lain jalan pikirannya merasa malu anaknya atau cucunya yang cacat fisik, maka disingkirkan anak tersebut dalam pergaulan ramai, hidup dalam keterasingan.
Keterasingan karena sosial ekonomi
Ekonomi kuat atau lemah adalah anugerah dari tuhan. Orang tidak boleh membanggakan kekayaan. Tetapi orang tidak boleh pula merasa rendah diri karena keadaan ekonomi yang sangat rendah, namun di dalam kenyataan lain , orang-orang yang lemah ekonominya sering kali merasa rendah diri.
Keterasingan karena rendah pindidikan
Banyak juga orang yang merasa rendah diri, karena rendahnya pendidikan, berakibat kurang dapat mengikuti jalan pikiran orang yang berpendidikan tinggi dan banyak pengalaman. Dalam pergaulan orang-orang yang berpendidikan rendah dan kurang pengalaman biasanya menyendiri, mengasingkan diri, karena serba sulit menempatkan diri.

4.MAKNA KESEPIAN
Kesepian berasal dari kata sepi, artinya sunyi, lengang, tidak ramai, tidak ada orang atau kendaraan, tidak banyak tamu, tidak banyak pembeli, tidak ada apa-apa dan sebagainya. Kesepiaan adalah keadaan sepi atau hal sepi.
Contoh :
Setelah anaknya yang telah menikah itu berumah sendiri, ibu hadi merasa kesepian.
Para pedagang mengeluh karena sedang resesi ekonomi, pembeli kurang sekali dan pasar tampak sepi.
Setelah tembakan gencar itu berhenti, tampak jalan-jalan sepi, orang-orang takut keluar, bahkan suara deru mobil pun tak kedengaran.
Setiap orang pernah mengalami kesepian karena kesepian bagian hidup manusia, lama atau sebentar kesepian ini bergantung terhadap mental orang dan kasus penyebabnya.
Sebab terjadinya kesepian
Bermacam-macam penyebab terjadinya kesepian. Frustasi pun dapat mengakibatkan kesepian. Jadi kesepian itu akibat dari keterasingan dan keterasingan akibat sikap sombong, angkuh, kaku, keras kepala, sehingga dijauhi kawan-kawan sepergaulan. Sebaliknya orang yang frustasi itu bersikap rendah diri, disengaja menjauhi pergaulan , kebalikan dengan orang yang bersikap sombong. Hidup dalam keterasingan yang akibatnya kesepian pada hakikatnya disebabkan karena orang itu juga takut kehilangan hak-haknya.

5.MAKNA KETIDAKPASTIAN
Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu (pikirannya) atau mendua, atau apa yang dipikirkan tidak searah, kemana tujuannya tidak jelas. Itu semua adalah akibat pikirannya tidak dapat konsentrasi. Ketidakkonsentrasian itu disebabkan oleh berbagai sebab, yang jelas pikirannya kacau.
Ketidakpastian atau ketidaktentuan adalah bagian hidup manusia. Setiap orang hidup pernah mengalaminya. Bahkan anak kecil sekalipun pernah mengalaminya, misalnya, ketika anak kecil ditinggal ibunya, ia menangis kebingungan. Kebingungan itu menunjukan adanya ketidakpastian, seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Sebab-sebab terjadinya ketidakpastian
Orang yang pikirannya terganggu tidak dapat lagi berpikir secara teratur, logis ataupun mengambil kesimpulan. Dalam berpikir ia selalu menerima rangsangan lain, sehingga jalan pikirannya menjadi kacau oleh rangsangan baru.
Menurut Siti Meichati dalam bukunya kesehatan mental ada beberapa sebab orang tak dapat berpikir dengan pasti. Sebab-sebab itu ialah :
1. Obsesi
Obsesi merupakan gejala neurose jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus-menerus, biasanya tentang hal-hal yang tak menyenangkan, atau sebab-sebab tak diketahui oleh penderita.
2. Phobia
Ialah rasa ketakutan yang tak terkendalikan, tidak normal, kepada suatu hal atau kejadian, tanpa diketahui sebab-sebabnya.
3. Kompulsi
Ialah adanya keragu-raguan yang sangat mengenai apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan yang tak disadari untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang serupa berulang kali (neurose).
4. Histeria
Ialah  neurose jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri, atau sugesti dari sikap orang lain.
5. Delusi
Menunjukan pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu keyakinan palsu. Tidak dapat memakai akal sehat. Tidak ada dasar kenyataan. Dan tidak sesuai dengan pengalaman.
6. Halusinasi
Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan pancaindra. Seperti para prewangan (medium) dapat digolongkan pada pengalaman halusinasi. Dengan sugesti diri orang dapat juga berhalusinasi.
7. Keadaan Emosi
Dalam keadaan tertentu sesesorang sangat terpengaruh oleh emosinya. Ia sampai pada keseluruhan pribadinya : gangguan pada nafsu makan, pusing-pusing, muka merah, nadi cepat, keringat, tekanan darah tinggi/lemah.
Untuk mengatasi atau untuk menghilangkan pikiran yang kacau itu perlu dicari penyebabnya, andaikata telah diketahui penyebabnya tetapi masih sakit, penderita perlu diajak pergi atau pergi sendiri ke psikolog.
Orang yang sombong, angkuh dan sebagainya telah menderita atau kena musibah mungkin akan dapat menyadari kesombongannya atau keangkuhannya.
Sumber :
Joko Tri Prasetya, Drs dkk., Ilmu Budaya Dasar, Rineka Cipta, Jakarta, 2013
Nama :Mustofa Kemal Ridha
Kelas : 1EA25
NPM : 14215855

MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

1. Manusia dan Tanggung Jawab

Pengertian yang kita peroleh sehari-hari untuk kata "pertanggung jawaban" dari kata "tanggung jawab" yaitu beban (kejiwaan) yang melandasi pelaksanaan kewajiban (atau dalam melakukan kewajiban) dari tugas tertentu.
Kesanggupan seseorang untuk melaksanakan suatu tugas wajib (atau lazimnya disebut kewajiban) yang diberikan kepadanya, dapat dikatakan bahwa ia bertanggung jawab, khususnya bertanggung jawab terhadap selesainya tugas itu. Sebaliknya bila ia lalai menjalankan tugasnya, akan dikatakan tidak mempunyai tanggung jawab moral. Tidak mempunyai kewajiban, tidak dapat disamakan dengan tidak mempunyai tanggung jawab, sebab memang tidak ada kewajiban atau tugas yang harus dikerjakan.
Di dalam ajaran islam dikenal adanya tugas-tugas yang bersifat wajib (fardhu) dan bersifat sunnah. Dari fardhu inilah nampaknya, kemudian berkembang nilai-nilai tanggung jawab di kalangan masyarakat luas.
Kewajiban lahir karena adanya:
a. hubungan antara manusia dengan manusia lain
b. hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dan dari dalam bentuk dan kadar yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Ada kalanya sebagian dari tanggung jawab seseorang itu dilimpahkan kepada orang lain. Seorang guru misalnya, dia menerima sebagian tanggung jawab orang tua dalam hal mendidik anaknya. Dalam hubungannya dengan tanggung jawab, Prof. Drijarkara mengatakan, bahwa manusia itu mempunyai hukum kodrat. Agar ia menjadi manusia yang baik, ia harus memiliki sikap dasar, seperti selalu siap sedia untuk berbuat kebaikan. Sikap dasar tersebut mempunyai banyak aspek. Salah satu aspek itu ialah tanggung jawab. Bila dihubungkan dengan kewajiban, menurut beliau, rasa tanggung jawab itu dapat berupa siap sedia untuk melakukan kewajiban.

2. Makna Tanggung Jawab

Tanggung Jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai pewujudan kesadaran akan kewajibannya.
Manusia adalah makhluk pribadi, karena itu manusia mempunyai tanggung jawab secara pribadi atas segala perbuatannya. Tetapi karena manusia juga makhluk sosial maka seringkali perbuatan itu menyangkut masyarakat, sehingga manusia pun harus bertanggung jawab kepada masyarakat.
Tak dapat dielakkan, bahwa manusia adalah warga negara suatu negara. Karena itu manusia mempunyai kewajiban terhadap negara. Bila manusia melalaikan kewajibannya, sudah tentu ia harus bertanggung jawab kepada negara.
Manusia ada bukan dengan sendirinya, tetapi merupakan ciptaan Tuhan, Karena itu manusia berkewajiban terhadap Tuhan. Kelalaian akan kewajibannya terhadap Tuhan, harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.

3. Makna Pengabdian

Pengabdian adalah perbuatan manusia baik yang berupa pikiran, pendapat, ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan cinta, kasih sayang, hormat, atau suatu ikatan dan semua dilakukan secara ikhlas. Pengabdian pada dasarnya adalah rasa tanggung jawab.
Manusia hidup berkeluarga, karena itu manusia wajib mengabdi kepada keluarga, karena anggota masyarakat, manusia wajib mengabdi kepada masyarakat. Manusia sebagai anggota suatu bangsa dan warga negara suatu negara, wajib mengabdi kepada bangsa dan negaranya.
Karena manusia makhluk ciptaan Tuhan, maka manusia wajib mengabdi kepada Tuhan.

4. Makna Kesadaran

Kesadaran adalah keinsyafan akan perbuatannya. Sadar artinya merasa, tahu atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akan dirinya, ingat kembali (dari pingsannya), siuman, bangun (dari tidur) ingat, tahu, dan mengerti, misalnya rakyat telah sadar akan politik.
Dalam berbuat, kadang-kadang orang hanya melanggar suatu norma, kadang-kadang sekaligus melanggar dua tiga norma, bahkan ada yang langsung melanggar tiga norma.
Kesadaran moral amat penting untuk diperhatikan orang, karena pelanggaran moral dapat berakibat merusak nama. Oleh ini tidak berarti bahwa kesadaran yang lain tidak penting. Semua kesadaran penting, karena ketidaksadaran adalah salah satu hal yang dapat menggoncangkan atau sekuang-kurangnya membuat kepincangan dalam hidup.

5. Makna Pengorbanan

Pengorbanan ialah pemberian secara ikhlas yang berupa pikiran, pendapat, harta, waktu, tenaga, bahkan mungkin nyawa, demi cinta, kesetiaan, ikatan sesuatu, kebenaran, dan mungkin juga kesetiakawanan.
Manusia hidup sebagai pribadi, sebagai bangsa dan warga negara suatu negara, dan juga sebagai makhluk ciptaan Tuhan; karena itu, dalam kehidupan ada bermacam-macam jenis pengorbanan.
Pengorbanan demi kelurga, pengorbanan demi hidup di msyarakat, pengorbanan demi cinta kepada bangsa negara, pengorbanan demi kebenaran dan pengorbanan demi cinta kepada agama dan cinta kepada Tuhan, semua itu tidak lepas dari kehidupan manusia.

Daftar pustaka : Prasetya, Joko Tri ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Rabu, 16 Desember 2015

Bab 8. MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP


NAMA : Mustofa Kemal Ridha

NPM     : 14215855

KELAS : 1EA25


A.    PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP

Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati karena ia menentukan masa depan seseorang. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia.

Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya. Atas dasar itu manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut pandangan hidup. Pandangan hidup berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :

1.    Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.

2.    Pandangan hidup yang berupa ideology yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada suatu Negara.

3.    Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.


B.    KEBAJIKAN

Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika.

Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, mahluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik. Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan.

Manusia merupakan mahluk sosial yang berarti manusia hidup bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat. Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan, dan sebagainya.

Sebagai mahluk pribadi, manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Baik buruk itu ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam bisikan di dalam hati yang mendesak seseorang, untuk menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan, tindakan atau tingkah laku.


C.    USAHA ATAU PERJUANGAN

Usaha atau perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak atau ilmu maupun denan tenaga ataupun dengan jasmani, atau dengan kedua-duanya. Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan, karena kemampuan terbatas timbul perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dan manusia lainnya.


D.     KEYAKINAN ATAU KEPERCAYAAN

Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ada 3 aliran filsafat yaitu :

1.      Aliran naturalisme; hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari nature, dan itu dari Tuhan. Tetapi yang tidak percaya pada Tuhan, nature itulah yang tertinggi. Aliran naturalisme berisikan spekulasi mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak ada.

2.      Aliran intelektualisme; dasar aliran ini adalah logika atau akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir, mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun bertentangan dengan kekuatan hati nurani. Manusia yakin bahwa dengan kekuatan pikir (akal) kebajikan itu dapat dicapai dengan sukses. Dengan akal diciptakan teknologi, teknologi adalah alat Bantu mencapai kebajikan yang maksimal, walaupun mungkin teknologi memberi akibat yang bertentangan dengan akal. Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari akal. Jadi pandangan hidup ini dilandasi oleh keyakinan kebenaran yang diterima akal.Benar menurut akal itulah yang baik.

3.      Aliran gabungan; dasar aliran ini adalah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa (hati nurani). Jadi apa yang benar menurut logika berpikir juga dapat diterima oleh hati nurani. Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbil dua kemungkinan pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarkan pada logika berpikir, sedangkan hati nurani dinomorduakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui adanya tetapi tidak menentukan, dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu, melainkan logika berpikir kolektif (masyarakat), pandangan hidup ini disebut sosialisme.




E.     LANGKAH-LANGKAH BERPANDANGAN HIDUP YANG BAIK

Setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup apapun dan bagaimanapun itu untuk dapat mencapai dan berhasil dalam kehidupan yang diinginkannya. Tetapi apapun itu, yang terpenting adalah memiliki pandangan hidup yang baik agar dapat mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik pula.

Adapun langkah-langkah berpandangan hidup yang baik yakni :

1.      Mengenal, mengenal merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama dari setiap aktivitas hidupnya yang dalam jal ini mengenal apa itu pandangan hidup.

2.      Mengerti, mengerti disini dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bemegara kita berpandangan pada Pancasila, maka dalam berpandangan hidup pada Pancasila kita hendaknya mengerti apa Pancasila dan bagaimana mengatur kehidupan bemegara. Begitu juga bagai yang berpandangan hidup pada agama Islam. Hendaknya kita mengerti apa itu Al-Qur’an, hadist dan bagaimana kedua hal tersebut mengatur kehidupan baik di dunia maupun di akhirat.

3.      Mengkhayati, dengan menghayati pandangan hidup kita memperoleh gambaran yang tepat dan benar mengenai kebenaran pandangan hidup itu sendiri. Menghayati disini dapat diibaratkan menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya, yaitu dengan memperluas dan mernperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup itu sendiri.

4.      Meyakini, meyakini merupakan suatu hal untuk cenderung memperoleh suatu kepastian sehingga dapat mencapai suatu tujuan hidupnya.

5.      Mengabdi, mengabdi merupakan sesuatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya lebih-lebih oleh orang lain. Dengan mengabdi maka kita akan merasakan manfaatnya.


ILMU BUDAYA DASAR

SUMBER : WIDYO NUGROHO DAN ACHMAD MUCHJI

UNIVERSITAS GUNADARMA

Rabu, 09 Desember 2015


BAB 7. MANUSIA DAN KEADILAN                  


NAMA   : Mustofa Kemal Ridha

NPM      : 14215855

KELAS :  1EA25                                                                           
Pengertian Keadilan,


Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil.


Keadilan menurut Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal.


Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat.


Menurut pendapat yang lebih umumdikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.


PENGERTIAN KEADILAN


Keadilan memberikan kebenaran, ketegasan dan suatu jalan tengah dari berbagai persoalan juga tidak memihak kepada siapapun. Dan bagi yang berbuat adil merupakan orang yang bijaksana.


KEADILAN SOSIAL

Seperti pancasila yang bermaksud keadilan sosial adalah langkah yang menetukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur. Setiap manusia berhak untuk mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya sesuai dengan kebijakannya masing-masing


BERBAGAI MACAM KEADILAN


a)   Keadilan Legal atau Keadilan Moral

Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (Than man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan Sunoto menyebutnya keadilan legal.


b)   Keadilan Distributif

Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (justice is done when equals are treated equally) Sebagai contoh: Ali bekerja 10 tahun dan budi bekerja 5 tahun. Pada waktu diberikan hadiah harus dibedakan antara Ali dan Budi, yaitu perbedaan sesuai dengan lamanya bekerja. Akan tetapi bila besar hadiah Ali dan Budi sama, justru hal tersebut tidak adil.


c)   Komutatif

Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan ketidak adilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.


KEJUJURAN

Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan-perbuatan yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.


KECURANGAN

Kecurangan atau curang identik dengan ketidak jujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Sudah tentu kecurangan sebagai lawan jujur.

Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atau orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan usaha. Kecurangan menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang bila masyarakat sekelilingnya hidup menderita.

Sebab-Sebab Seseorang Melakukan Kecurangan

Bermacam-macam sebab orang melakukan kecurangan, ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya ada empat aspek yaitu:

1.      Aspek ekonomi

2.      Aspek kebudayaan

3.      Aspek peradaban

4.      Aspek tenik

Apabila ke empat aspek tersebut dilaksanakan secara wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum, akan tetapi apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut dan jadilah kecurangan.


PEMULIHAN NAMA BAIK

Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan bama baik atau tidak baik ini adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan sebagainya. Pada hakekatnya pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak yang baik.


PEMBALASAN

Pembalasan adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk moral dan makhluk sosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia bermuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar hak dan kewajiban manusia lain. Oleh karena itu manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.


SIR : WIDYO NUGROHO & ACHMAD MUCHJI

UNIVERSITAS  GUNADARMA

Rabu, 02 Desember 2015

BAB VI MANUSIA DAN PENDERITAAN

NAMA : Mustofa Kemal Ridha
KELAS :1EA25
NPM : 14215855
ILMU BUDAYA DASAR

BAB VI
    
          MANUSIA DAN PENDERITAAN

1. Makna Penderitaan
Penderitaan dari kata derita. Kata derita berasal dari kata bahasa Sansekerta dhra artinya menahan atau menganggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Yang termasuk pendderitaan itu adalah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan dan lain lain.
Dalam kehidupan, penderitaan manusia telah menjadi salah satu gagasan atau tema karya filsafat atau karya seni sepanjang jaman. Hampir semua karya besar dalam bidang seni dan filsafat lahir dari imajinasi penderitaan. Epos Ramayana dan Mahabarata merupakan cerita yang penuh penderitaan. Dalam dunia modern seperti ini, hasil teknologi modern merata di segala penjuru, tetapi penderitaan yang dialami manusia sekarang juga tidak kalah hebatnya dibandingkan penderitaan yang dialami oleh nenek moyang kita atau manusia sebelum merdeka.
Dapat disimpulkan bahwa :
Pederitaan tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, karena setiap orang akan/pernah mengalami penditaan. Nasib malang atau penderitaan dating tak dapat ditolak, harus diterima apa adanya, kita pasrah kepada Tuhan.
Kasus penderitaan bermacam-macam sesuai dengan liku-liku kehidupan manusia, dan kasus penderitaan seseorang berbeda dengan orang lain.
Sejak jaman dahulu kasus penderitaan dituangkan dalam bentuk seni, misalnya seni sastra, wayang, drama, music dan sebagainya. Penderitaan orang dahulu tidak kalah hebat dibandingkan pada jaman teknologi modern.
Dengan mempelajari kasus penderitaan manusia berarti telah mempelajari sikap, nilai, harga diri, ketamakan, kesombongan orang dan sebagainya. Semuanya itu bermanfaat untuk memperdalam dan memperluas persepsi, tanggapan, wawasan, dan penalaran bagi yang mempelajarinya.

2. Makna Siksaan
Siksaan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Setiap manuisa pernah atau akan menjalani siksaan. Siksaan tak dapat dipisahkan dengan dosa. Siksaan yang behubungan dengan dosa adalah siksaan Hari Kiamat, siksaan di neraka merupakan tugas para ahli agama untuk membicarakan. Sedang yang dibahas dalam modul ini hanya siksaan manusia yang dialami di dunia fana ini.
Siksaan itu berupa penyakit, siksaan hati, siksaan badan oleh orang lain dan sebagainya.
Siksaan manusia ini ternyata juga menimbulkan kreatifitas baik bagi yang pernah mengalami siksaan atau orang lain yang berjiwa seni yang menyaksikan baik langsung atau tak langsung. Hal itu terbukti dengan banyaknya tulisan baik berupa berita, cerpen, ataupun novel yang mengisahkan siksaan orang. Bahkan siksaan itu banyak yang difilmkan.
Dengan membaca hasil seni yang berupa siksaan kita akan dapat mengambil hikmahnya. Karena kita dapat menilai arti manusia, harga dikuasai nafsu setan, kesadisan, tidak mengenal perikemanusiaan dan sebagainya.

3. Makna Rasa Sakit
Rasa sakit adalah rasa yang tidak enak bagi si penderitanya. Rasa sakit akibat menderita penyakit, atau sakit. Rasa sakit atau penyakit tak dapat dipisahkan darikehidupan sehari-hari. Menderita sakit tak dapat direncanakan.
Rasa sakit atau sakit dalam pengalaman hidup sehari-hari ada tiga macam : sakit hati, sakit syaraf dan sakit fisik. Rasa sakit banyak hikmahnya, antara lain dapat mendekatkan diri penderita kepada Tuhan, dpat menimbulkan rasa kasihan terhadap penderita, dapat membuka rasa prihatin manusia, arasa social, dermawan dan sebagainya.
Dapat disimpulkan bahwa :
Segala macam rasa sakit atau penyakit yang diderita manusia tak dapat dipisahkan dari kehidupan, karena setiap orang mengalami rasa skit artau penyakit.
Rasa sakit atau penyakit menimbulkan daya kreatifitas masuia. Banyak hasil seni budaya sperti cerpen, novel, film ataupun seni foto yang mengungkapkan berbagai rasa sakit.
Tiap rasa sakit atau penyakit ada obatnya. Hanya tergantung kepada penderita atau keluarga penderita, apa ada usaha atau tidak. Bagi yang berusaha sungguh-sungguh dengan disertai mendekatkan diri kepada Tuhan dan pasrah kepadaNya maka Tuhan akan mengabulkan doa dan usahanya.

4. Neraka
Manusia masuk neraka karena dosa. Oleh karena itu, bila kita bicara tentang neraka tentu berkaitan dengan dosa. Berbicara tentang dosa berarti juga berbicara tentang kesalahan. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tak lepas dari kesalahan. Kesalahan itu sengaja atau tidak, tetap salah dan mendapat hukuman.
Neraka berhubungan erat dengan dosa dan identic dengan salah atau kesalahan. Orang salah mendapat hukuman. Hukumna identic dengan siksaan. Siksaan adalah rasa sakit dan rasa sakit adalah penderitaan. Pengertian neraka sering dihubungkan dengan kematian. Neraka sesudah mati dibahas oleh para agama. Penderitaan dalam hidup yang sering pula dikatakan “neraka dunia” dibicaraka dalam modul ini.

5. Sumber Penderitaan
1. Hakikat Manusia.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk hidup yang memiliki kepribadian yang tersusun dari perpaduan dan saling hubungan dan pengartuh mepengaruhi antara unsur-unsur jasmani dan rohani dank arena itu penderitaan dapat pula terjadi pada tingkat jasmani maupun rohani.
Jasmani disebut juga sebagai tubuh, badan, badan wadaq, jasad, materi, wadah, atau unsur konkrit dari pada pribadi. Jasmani merupakan unsur yang hidup pada pribadi manusia. Di dalam jasmani manusia ada dua unsur-unsur yang selalu berhubungan, yaitu otak dan panca indera.
Rohani sering disebut dengan istilah lain seperti misalnya jiwa, badan halus, dan mind merupakan unsur yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Dalam kehidupan sehari-hari rohani menjiwai, mendasari, dan memimpin unsur-unsur pribadi manusia. Rohani memiliki alat dan kemampuan. Alat dan kemampuan itu adalah :
(1) Nafsu, (2) perasaan, (3) pikiran, (4) kemauan.
Nafsu adalah semua dorongan yang dittimbulkan oleh segala macam kebutuhan, termasuk pula instink, sehingga menimbulkan keinginan.
Perasaan merupak gejala psikis. Perasaan menyangkut susasana batiniah manusia. Kalau seseorang merasa cinta, benci dan sebagainya persaan cinta dan benci ini tinggal di dalam batin manusia.
Pikiran disebut juga akal, budi. Dimilikinya pikiran ini memungkinkan manusia mempertimbangkannya, membedakan, dan mengambil keputusan berdasarkan alasan-alasan tersendiri.
Kemauan disebut juga kehendak. Dimilikinya kemauan atau kehendak dalam diri manusia memungkinkan manusia memilih.
2. Dorongan Memenuhi Kebutuhan sebagi Sumber Penderitaan
Untuk mempertahankan keberadaan serta kehidupannya, manusia dituntut untuk memenuhi kebutuhannyabaik kehidupan fisik, psikis, maupun kebutuhan social. Di dalam usaha memenuhi kebutuhan ini nafsu memegang peranan penting. Nafsu atau dorongan ini cenderung untuk menuntut dipenuhinya kepuasan akan keinginan. Dalam usaha memenuhi dorongan atau nafsu ini manusia menggunakan daya kehendak dan akal budi serta perasaan yang dimilikinya untuk memilih dan mempertimbangkan jalan untuk mencapai obyek yang dituju.

6. Upaya Menghindarkan Diri dari Penderitaan
Perilaku manusia sebagian besar merupakan pancaran perilaku yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu perilaku manusia tidak pernah beku, dapat selalu berubah, dan dapat berbeda beda dari satu individu ke individu lain, dan dari satu saat ke saat yang lain. Dalam proses pembentukan kepribadiannya ini faktor enkulturasi dan sosialisasi memegang peranan yang penting
Kepribadian psikologis yang sehat dalam arti selalu berada dalam kondisi harmonis, stabil, dan sabar yang telah dibentuk sejak awal perkembangannya itu seharusnya tetap dibina sampai akhir hayatnya. Untuk dapat membina kondisi semacam itu diperlukan suatu pegangan atau suatu pedoman hidup.
Sumber :
Joko Tri Prasetya, Drs dkk., Ilmu Budaya Dasar, Rineka Cipta, Jakarta, 2013
Nugroho Widyo., Muchji Achmad, Ilmu Budaya Dasar, Gunadarma, Jakarta, 1994